MAKALAH
PERAN
BAHASA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pendidikan karakter bisa dipengaruhi
oleh banyak hal, diantaranya keluarga, teman bergaul, lingkungan, bahasa dan
banyak lagi lainnya. Salah satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah bahasa.
Dalam berkomunikasi bahasa merupakan
suatu keharusan dan modal yang mampu menunjukkan identitas diri. Baik dari
situasi formal maupun non formal. Bahkan bahasa yang dianggap sebagai budaya
berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter.
Seseorang mulai mengenal bahasa
sejak di lingkungan keluarga, kemudian berlanjut ke lingkungan sekolah, dan
masyarakat. Ini semua yang disebut lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan
memiliki pengaruh yang besar dalam pendidikan anak, karena proses pendidikan
selalu berlangsung dalam lingkungan tertentu yang berhubungan dengan ruang dan
waktu, karena hal tersebut lingkungan pendidikan harus diciptakan efektif dan
semenarik mungkin terlebih mampu memberikan kontribusi lebih terhadap siswa,
lalu
bagaimana proses pendidikan yang berlangsung diluar sekolah, tentu saja besar pengaruhnya, lingkungan masyarakat terutama, selain di keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian seseorang sesuai keberadaannya, lingkungan masyarakat juga mampu menyediakan pendidikan yang berfungsi sebagai tambahan atau suplement. Namun pendidikan yang ada di lingkungan kita belum mampu memberikan nilai lebih sehingga mampu membuat seseorang menjadi mudah menghadapi masa depannya dengan baik. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sedangkan salah satu untuk mendapatkan pendidikan dengan nilai nilai mulia, berakhlak, kreatif dan memiliki karakter sesuai budaya bangsa dapat diperoleh melalui penggunaan bahasa yang baik. Seperti yang ditekankan pada pernyataan diatas, bahasa ternyata memiliki peranan dalam pengelolahan dan menciptakan generasi penerus yang memiliki nilai lebih. Dengan alasan itulah perlunya menganalisa lebih jauh bagaimana peran bahasa dalam pendidikan karakter.
bagaimana proses pendidikan yang berlangsung diluar sekolah, tentu saja besar pengaruhnya, lingkungan masyarakat terutama, selain di keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian seseorang sesuai keberadaannya, lingkungan masyarakat juga mampu menyediakan pendidikan yang berfungsi sebagai tambahan atau suplement. Namun pendidikan yang ada di lingkungan kita belum mampu memberikan nilai lebih sehingga mampu membuat seseorang menjadi mudah menghadapi masa depannya dengan baik. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sedangkan salah satu untuk mendapatkan pendidikan dengan nilai nilai mulia, berakhlak, kreatif dan memiliki karakter sesuai budaya bangsa dapat diperoleh melalui penggunaan bahasa yang baik. Seperti yang ditekankan pada pernyataan diatas, bahasa ternyata memiliki peranan dalam pengelolahan dan menciptakan generasi penerus yang memiliki nilai lebih. Dengan alasan itulah perlunya menganalisa lebih jauh bagaimana peran bahasa dalam pendidikan karakter.
1.2. Rumusan Masalah
Penulis mencoba menganalisis
permasalahan tentang pengaruh bahasa terhadap pendidikan karakter antaralain
yaitu;
1.
Bagaimana kaitan bahasa dalam pendidikan karakter?
2.
Bagaimana pengaruh bahasa dalam pendidikan karakter?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini
adalah untuk memberikan informasi pada masyarakat tentang pentingnya bahasa
sebagai salah satu faktor penanaman pendidikan karakter.
1.4. Manfaat
Penulisan
Penulisan makalah ini mempunyai dua
manfaat, yang pertama yaitu manfaat teoretis dan kedua manfaat praktis.
1.4.1. Manfaat Teoretis
Dari
segi teoretis, penulisan makalah ini menerangkan tentang pentingnya nilai nilai
yang ditanamkan dalam pendidikan karakter khususnya para pelajar maupun
masyarakat luas, sebab pendidikan merupakan masalah dasar yang amat penting dan
bernilai dalam kehidupan masyarakat.
1.4.2. Manfaat Praktis
Secara
praktis penelitian ini sangat bermanfaat antara lain
a.
Bagi pendidik yang berorientasi pada pemberian pendidikan baik dilingkungan
formal maupun non formal;
b.
Memberikan informasi pada masyarakat yang memperhatikan dunia pendidikan dan
tentang manfaat yang diperoleh dari bahasa;
c.
Menunjukkan pula pada masyarakat terutama orang tua tentang pentingnya
pemahaman secara mendalam yang terkandung pada sebuah bahasa, dengan harapan
lebih banyak lagi masyarakat yang menggunakan bahasa sebagai salah satu media
pembentukan karakter yang baik, dikehidupan sosial pada umumnya;
d.
Penulis berharap bahwa dengan adanya penggunaan bahasa yang baik, mampu
dimanfaatkan sebagai penanaman nilai-nilai.
1.5. Ruang Lingkup Materi
Agar pembahasan materi yang
diuraikan dalam makalah ini tetap terarah dan tidak simpang siur, maka penulis
membatasi masalahnya yaitu hanya menguraikan tentang bagaimanakah peran bahasa
terhadap pendidikan karakter.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Pengertian
Karakter
Menurut bahasa, karakter
adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah
sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang
individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat
diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap
untuk kondisi-kondisi tertentu.
Dilihat
dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan
yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi
tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan
kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.
2.2. Pengertian Bahasa
Menurut Gorys Keraf (1997:1), Bahasa
adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin
ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya
alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa duaorang atau pihak
yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah
disepakati bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka
itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat
komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.
Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks
daripada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah
merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang
bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambang.
BAB
III
PEMBAHASAN
Bahasa
adalah budaya. Ini yang selama ini menjadi sorotan masyarakat, bahasa merupakan
ciri dari budaya suatu daerah atau personal yang ada dalam diri seseorang.
Berbahasa dengan baik, baik pula kepribadian dan pendidikan sesorang. Lalu
bagaimana jika budaya salah satu masyarakat menjadi suatu hal yang sulit
diterima masyarakat, bisa jadi karena salah satu faktor yaitu bahasa yang
kurang tepat, dan itu bisa saja terjadi pada anak didik kita, jika tidak
ditanamkan dari awal pentingnya ketepatan bahasa maka akan besar pengaruhnya
terhadap budaya mereka dan pendidikannya kedepan. Pendidikan sebagai tumpuhan
pembentukan mental anak, haruslah dirancang sesuai kebutuhan kejiwaannya.
Penanaman nilai dalam suatu pendidikan harus diterapakan, Pentingnya pendidikan
karakter yang memasukkan unsur nilai penting seperti budi pekerti, pengetahuan,
tindakan, dan kesemua itu dilakukan dengan tingkat kesadaran yang tinggi. Pada
anak usia dini dianggap sebagai suatu hal penting. Penanaman sejak dini
memberikan dampak besar bagi anak kedepannya, dengan harapan mental dan sikap
anak cukup baik dalam menghadapai tantangan hidup.
3.1. Bahasa
BAHASA menunjukkan cerminan pribadi
seseorang. Karakter, watak, atau pribadi seseorang dapat diidentifikasi dari
perkataan yang ia ucapkan. Penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun,
sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya berbudi.
Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang sarkasme, menghujat, memaki,
memfitnah, mendiskreditkan, memprovokasi, mengejek, atau melecehkan, akan
mencitrakan pribadi yang tak berbudi. Tepatlah bunyi peribahasa, "bahasa
menunjukkan bangsa". Bagaimanakah sebenarnya tingkat peradaban dan jati
diri bangsa tersebut? Apakah ia termasuk bangsa yang ramah, bersahabat, santun,
damai, dan menyenangkan? Ataukah sebaliknya, ia termasuk bangsa yang senang
menebar bibit-bibit kebencian, menebar permusuhan, suka menyakiti, bersikap arogan,
dan suka menang sendiri.
Bahasa memang memiliki peran sentral
dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Begitu pentingnya bahasa
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu suatu
kebijakan yang berimplikasi pada pembinaan dan pembelajaran di lembaga
pendidikan. Salah satu bentuk pembinaan yang dianggap paling strategis adalah
pembelajaran bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa lainnya di
sekolah.
3.2. Pentingnya Penggunaan Bahasa Dalam Kehidupan
Bermasyarakat
Manusia merupakan makhluk sosial.
Makhluk yang tidak dapat hidup sendiri atau individu, manusia sangat
membutuhkan manusia lain dalam menjalankan aktivitas, salah satu contoh
penggunaan bahasa yaitu komunikasi dengan orang lain. Bahasa adalah, suatu
system yang sifatnya berbunyi dan kita ucapkan melalui mulut kita sebagai alat
berkomunikasi dengan masyarakat satu dan yang lainnya, fungsi dari bahasa
sendiripun salah satunya adalah, sebagai alat untuk menjelaskan sesuatu dengan
menggunakan kata – kata kepada orang yang sedang kita ajak bicara. Ada juga
fungsi bahasa itu sebagai alat untuk saling bekerjasama dengan sesama dan
sebagai alat indentifikasi diri.
Bahasa itu sangat penting untuk
berinteraksi sosial, jadi maupun di Negara Indonesia ini mempunyai berbagai
macam bahasa tetap saja bahasa yang wajib di gunakan dengan baik dan benar
adalah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar, bahasa bukan
sekedar alat komunikasi, bahasa itu bersistem. Oleh karena itu, berbahasa bukan
sekedar berkomunikasi, berbahasa perlu menaati kaidah atau aturan bahasa yang
berlaku. Ungkapan “Gunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.” Kita
tentu sudah sering mendengar dan membaca ungkapan tersebut. Permasalahannya
adalah pengertian apa yang terbentuk dalam benak kita ketika mendengar ungkapan
tersebut? Apakah sebenarnya ungkapan itu? Apakah yang dijadikan alat ukur
(kriteria) bahasa yang baik? Apa pula alat ukur bahasa yang benar? Bahasa yang
Baik Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif bahasa. Hal itu
berarti bahwa kita harus memperhatikan sasaran bahasa kita. Kita harus memperhatikan
kepada siapa kita akan menyampaikan bahasa kita.
Oleh sebab itu, unsur umur,
pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial, dan sudut pandang khalayak
sasaran kita tidak boleh kita abaikan. Cara kita berbahasa kepada anak kecil
dengan cara kita berbahasa kepada orang dewasa tentu berbeda. Penggunaan bahasa
untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan rendah tentu tidak
dapat disamakan. Kita tidak dapat menyampaikan pengertian mengenai jembatan,
misalnya, dengan bahasa yang sama kepada seorang anak SD dan kepada orang
dewasa. Selain umur yang berbeda, daya serap seorang anak dengan orang dewasa
tentu jauh berbeda. Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek
komunikasi, maka unsur-unsur komunikasi menjadi penting, yakni pengirim pesan,
isi pesan, media penyampaian pesan, dan penerima pesan. Mengirim pesan adalah
orang yang akan menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu
pendengar atau pembacanya, bergantung pada media yang digunakannya. Jika
pengirim pesan menggunakan telepon, media yang digunakan adalah media lisan.
Jika ia menggunakan surat, media yang digunakan adalah media tulis. Isi pesan
adalah gagasan yang ingin disampaikannya kepada penerima pesan.
3.3. Kedudukan
dan Fungsi Bahasa Dalam Dunia Pendidikan
Bahasa selain menunjukkan budaya
tetapi juga kecerdasan personal seseorang (intelegensi linguistic). Bahasa
mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup manusia. Manusia sudah
menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi antarsesamanya sejak berabad-abad
silam. Bahasa hadir sejalan dengan sejarah sosial komunitas-komunitas
masyarakat atau bangsa. Pemahaman bahasa sebagai fungsi sosial menjadi hal
pokok manusia untuk mengadakan interaksi sosial dengan sesamanya. Keraf
(1980:03) yang menyatakan bahwa bahasa apabila ditinjau dari dasar dan motif
pertumbuhannya, bahasa berfungsi sebagai:
(1)
Alat untuk menyatakan ekspresi diri,
(2)
Alat komunikasi,
(3)
Alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, dan
(4)
Alat untuk mengadakan kontrol sosial.
Empat fungsi yang diungkapkan Keraf
diatas, salah satunya menunjukkan cara yang bisa dikatagorikan sebagai
lingkungan pendidikan yaiu masyarakat. Didalam lingkungan daerah yang terisolir
maupun daerah yang jauh dari pusat kota, pendidikan di luar sekolah tentu saja
yang berada dalam masyarakat sangat dibutuhkan, karena bagi daerah seperti ini
lingkungan pendidikan yang menyediakan ilmu pengetahuan, keterampilan, atau
performans yang berfungsi dapat menggantikan pendidikan dasar utama. Pada
ketetapan MPR nomor IV/MPR/1988 tentang garis garis besar haluan Negara pada
bab IV yaitu pola umum pelita ke lima bagian pendidikan berbunyi sebagai
berikut: “Pendidikan merupakan proses budaya, untuk meningkatkan harkat dan
martabat manusia” pendidikan berlangsung seumur hidup dan dapat dilaksanakan
didalam Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, karena itu pendidikan
merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Sumarsono dan Paini Partana dalam
Sosiolinguistik menyatakan bahwa bahasa sebagai produk sosial atau produk
budaya. Bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan manusia. Sebagai produk
sosial atau budaya, bahasa berfungsi sebagai wadah aspirasi sosial, kegiatan
dan perilaku masyarakat, dan sebagai wadah penyingkapan budaya termasuk
teknologi yang diciptakan oleh masyarakat pemakai bahasa itu. Zainuddin juga
mengutaran bahwa Bahasa diperoleh dengan belajar, maksudnya tiap orang belajar
bahasa dari semenjak anak anak, dan lingkungan yang terdekat dan mampu
memberikan pendidikan bahasa salah satunya lingkungan keluarga.
3.4. Penanaman
Pendidikan Karakter Melalui Bahasa
Seiring perkembangan zaman yang
terus berubah, memaksa pendidikan yang dinilai mempunyai peran besar harus
pandai berinovasi, Hamidjojo mengemukakan hal – hal yang memaksa adanya inovasi
pendidikan antara lain:
1.
Besarnya eksploasi pendidikan
2.
Melonjaknya anspirasi dikalangan masyarakat luas, menambah makin berat dan
besarnya keperluan penduduk yang lebih baik
3.
Kurangnya sumber
4.
Kelemahan system
5.
Belum mekarnya alat organisasi efektif
Oleh sebab perihal tersebut, adanya
inovasi dalam perbaikan pendidikan di negara kita antara lain dengan adanya
pendidikan karakter, Koesuma dalam artikelnya menyatakan tujuan pendidikan
adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si
subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster,
karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter
menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari
kematangan karakter seperti inilah, kualitas seseorang secara pribadi mampu
diukur.
Pendidikan berbasisi karakter
merupakan salah satu upaya dalam pembaharuan di dunia pendidikan, besar
pengaruh penanaman karakter pada anak dianggap sebaga hal pokok. Hal ini
mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting
untuk ditingkatkan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia,
lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan,
perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama,
budaya, dan adat istiadat. Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam
pendidikan karakter,yaitu:
(1)
Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai.
Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.
(2)
Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak
mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan
dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi
meruntuhkan kredibilitas seseorang.
(3)
Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi
nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan
pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.
(4)
keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna
mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi
penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Kematangan keempat karakter ini,
lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju
personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas
dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi
eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan format seorang pribadi
dalam segala tindakannya. Pendapat Foerster ini semakin mendukung program
pendidikan yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang memberdayakan anak
dalam pengertian kecerdasan dan keterampilan melainkan program pendidikan juga
menyadarkan tentang pentingnya menjaga moralitas dan peningkatan kemampuan
pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan. Apabila segala fenomena
tentang pentingnya pendidikan tidak terealisasi dengan baik, maka keberhasilan
pemperhati pendidikan karakter akan mengalami kegagalan. Dampak yang dinilai
sangat mempengaruhi pendidikan anak adalah Lingkungan, baik keluarga, sekolah
maupun masyarakat. Dan pemberian pendidikan akan tersampaikan dengan baik jika
penggunaan bahasa diberikan dengan tepat.
Bahasa yang sopan,baik dan tidak
mampu membuat anak merasa tertekan. Bahasa dapat pula berperan sebagai alat
integrasi sosial sekaligus alat adaptasi sosial, hal ini mengingat bahwa bangsa
Indonesia memiliki bahasa yang majemuk. Kemajemukan ini membutuhkan satu alat
sebagai pemersatu keberseragaman tersebut. Di sinilah fungsi bahasa sangat
diperlukan sebagai alat integrasi sosial. Bahasa disebut sebagai alat adaptasi
sosial apabila seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat,
tata krama, dan aturan-aturan dari tempatnya berasal. Proses adaptasi ini akan
berjalan baik apabila terdapat sebuah alat yang membuat satu sama lainnya
mengerti, alat tersebut disebut bahasa. Dari uraian ini dapat kita tarik
kesimpulan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia.
Kartomiharjo (1982:1) menguraikan
bahwa salah satu butir sumpah pemuda adalah menjunjung tinggi bahasa
persatuan,bahasa Indonesia. Dengan dengan demikian bahasa dapat mengikat
anggota-anggota masyarakat pemakai bahasa menjadi masyarakat yang kuat,
bersatu, dan maju. Lalu bagaimana bahasa mulai bias dikatakan berpengaruh
terhapa proses pemberian pendidikan karakter, ada lima slogan yang
dikumandangkan oleh para pengamat AM/Moulton, 1961, dalam “ International
Congress of Linguistic”, yakni:
(a)
Bahasa adalah Lisan, bukan tulisan
(b)
Bahasa adalah seperangkat kebiasaan
(c)
Yang diajarkan adalah bahasa, bukan tentang bahasa
(d)
Bahasa adalah yang diajarkan oleh si penutur asli
(e)
Bahasa adalah berbeda-beda
Dari slogan tersebut ada satu hal
yang dianggap berpengaruh penting terhadap pendidikan karakter yaitu bahasa
adalah seperangkat kebiasaan, kebiasaan bisa dikatakan adat, dalam situs
Wikipedia menyebutkan bahwa adat ialah Adat adalah gagasan kebudayaan yang
terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum
adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan
akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat
setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang.
Stevick dalam Sudana menyatakan
maksud dari pengajaran bahasa adalah, meningkatkan harga diri, menumbuhkan
pikiran positif, meningkatkan pemahaman diri, menumbuhkna keakraban dengan
orang lain, dan mampu menemukan kelebihan dan kelemahan diri. Dari pernyataan
tersebut maksud pengjaran bahasa berorientasi pada pemerolehan nilai nilai
sesuai pendidikan karakter yaitu, menumbuhkan pikiran positif dan menumbuhkan
keakraban dengan orang lain.
BAB
IV
PENUTUP
4.1. Simpulan
Setelah membaca dan memahami serta
menganalisis Pengaruh dan keterkaitan bahasa terhadap pendidikan karakter dapat
disimpulakan sebagai berikut:
1.
Bahasa
merupakan suatu hal yang dianggap perlu untuk dilaksanakan pada lingkungan
pendidikan, karena Pemerolehan bahasa dikaitkan dengan penguasaan sesuatu
bahasa tanpa disadari atau dipelajari secara langsung yaitu tanpa melalui
pendidikan secara formal untuk mempelajarinya, sebaliknya memperolehnya dari
bahasa yang dituturkan oleh ahli masyarakat di sekitarnya.
2.
Bahasa
diberikan pada lingkungan pendidikan, dan dimulai dari usia anak anak, sehingga
penanaman nilai nilai yang diberikan sejak anak anak dinilai lebih maksimal
dari pada diberikan pada usia dewasa.
4.2. Saran
Dari makalah ini, harapan untuk selalu memberikan pendidikan berbasis karakter melalui pengajaran bahasa agar terus ditingkakan dan dijadikan suatu rutinitas dalam segala lingkungan pendidikan. Karena terselenggaranya pendidikan di tiga lingkungan sangat memungkinkan penggunaan bahasa memiliki pengaruh yang besar. Dari cerminan tersebut perlunya pengajaran bahasa dan kaitannya dengan pendidikan dinilai mampu memberikan hal positif dalam pembentukan karakter seseorang melalui pendidikan berbasis karakter. Mempelajari dan mengembangkan bahasa dalam pendidikan sangatlah perlu ditingkatkan, oleh sebab itu kita sebagai pemerhati pendidikan mempunyai peran penting dalam menanamkan nilai nilai positif serta pembentuka karakter seseorang melalaui bahasa yang baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Depdiknas.
2003. Undang-undang No. 20 tahun 2003,
Sistem Pendidikan Nasional, www.depdiknas.go.id
Sudrajat,
Akhmad. 2010. Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar. Diakses dari: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/12/16/
Sudrajat,
Akhmad. 2010. Peran Pendidikan Menuju
Bangsa Yang Bermartabat. Diakses dari: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/12/16/
http://id.wikipedia.org/wiki/Adat: Desember 2011
http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/pendidikan/umum1.htm: Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar